Jumat, 01 November 2013

untuk sipilku



Tahukah kalian wahai warga sipil, yang tepatnya berada di Unnes bawasanya ada warga di sekitar kita yang tidak begitu jauh dari Unnes yang membutuhkan bantuan kita, bukan materi atau sekedar sembako yang mereka butuhkan akan tetapi pikiran dan gotongroyong kitalah untuk bangunan sederhana yang tahan akan pergerakan tanah dan aman untuk mereka.
Secara administrasi Dukuh Deliksari termasuk dalam wilayah Desa Sukorejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang dengan luas Dukuh secara keseluruhan adalah 2,43 ha. Nasib yang dialami oleh warga Deliksari Kelurahan Sukorejo, Gunungpati ini memang tidak mudah. Setiap tahun mereka harus menghadapi kondisi alam yang tidak bersahabat dan menjadi bencana, yakni tanah bergerak.
Setiap musim penghujan datang, warga Dukuh Deliksari, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati selalu khawatir akan kondisi rumah dan jalan kampung mereka yang selalu bergeser secara perlahan akibat pergerakan tanah pada lereng. Pergerakan tanah ini terjadi secara berlahan sehingga tidak sampai merobohkan rumah dalam seketika, sehingga setiap tahun pula warga secara bergotong-royong memperbaiki rumah yang rata-rata terbuat dari material kayu. Dukuh Deliksari merupakan salah satu daerah rawan longsor di Kota Semarang,Dihuni keluarga dengan tingkat pendidikan rendah.  Sebagian besar masyarakat berpendidikan di bawah SMA dengan prosentase paling banyak hanya lulusan SD yaitu sebesar 32% (2005). Sedangkan tingkat kesejahteraan yang kurang baik karena sebagian besar bekerja di sektor informal dengan pendapatan yang tidak menentu, seperti pemulung, tukang kayu, penjaga rumah, tukang ojek dan sejenisnya. Selama ini masyarakat hanya pasif menerima bantuan dan kurang dilibatkan dalam menentukan keputusan. Upaya relokasi warga Deliksari ke Pakintelan Gunungpati dengan cara tukar guling pada tahun 2011 hingga saat ini juga masih belum terlaksana, sehingga puluhan rumah yang miring dibiarkan rusak.
di RT04 RW 06 Deliksari mengalami nasib yang paling buruk. Banyak rumah mereka yang rusak akibat bencana tanah bergerak. Warga pun resah karena musibah ini rutin terjadi,akibatnya banyak rumah yang hampir atau sudah runtuh akibat bencana ini ,bahkan tiap akhir pekan para warga RT 04/06 ini harus bergotong royong membangun rumah-rumah warganya yang runtuh secara bergiliran,sehingga rutinitas ini sudah seperti arisan untuk mereka. Selain merusak rumah warga, tanah bergerak juga merusak jalan dan jembatan yang menjadi akses Desa Deliksari dari jalan raya. Jalan dan jembatan selalu rusak bahkan kadang menghilang. Jalan dan jembatan sudah diperbaiki oleh warga lebih dari lima kali namun selalu hilang akibat tanah yang bergerak. Para mengaku lelah karena harus merenovasi rumah jika musim hujan tiba. Warga Deliksari berharap ada bantuan dari pemerintah sebagai solusi menghadapi bencana ini. Tanpa uluran tangan, warga sejauh ini hanya bisa pasrah . Perlu adanya solusi teknis untuk meringankan beban warga dalam kondisi upaya relokasi warga yang tidak menentu dan warga juga tidak ada pilihan lain untuk tinggal.
Miris jika melihat masih ada daerah yang seperti ini dan berada di dekatmu sedang kalian sendiri baru tersadar ternyata masih ada daerah yang seperti ini. Pemandangan seperti ini masih terjadi di daerah sekitar kita sendiri bahkan selalu atau sering kita lewati. Apakah kalian pernah berfikir bahwa di dekat kita ada warga yang butuh pemikiran kalian. Jika memang belum bisa memberikan yang lebih, cukup dengan menyumbangkan ide atau pemikiran kita untuk mereka. hal kecil bisa bermanfaat besar untuk mereka yang sangat membutuhkan kita. Kita sebagai warga sipil harusnya tergerak hatinya melihat lingkungan seperti ini, bukan hanya gedung pencakar langit, jembatan terpanjang, serta bendungan terbesar yang menjadi utama dalam pikiran kita sebagai seorang engineer ,akan tetapi dari hal kecil seperti inilah kita mulai menjadi seorang insinyur sebenarnya. Tak perlu jauh-jauh untuk memberikan uluran tanganmu.
Bukankah sebaik-baik manusia itu yang bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya ?


Selasa, 25 Juni 2013

READY SUCCESSFUL CIVIL ENGINEERING


Menjadi orang sipil yang bergelut di dunia perproyekan bukan hanya nilai atau IP pada waktu kuliah yang di butuhkan, yang paling utama adalah skill dan ilmu yang kita dapat dari bangku perkuliahan. IP hanyalah nomer sekian dari banyak kebutuhan yang perlu di miliki seorang engineer.
Kita di bangku kuliah tidak hanya semata-mata berlomba-lomba mendapatkan nilai tinggi atau penghargaan ,yang paling utama adalah bagaimana kita mengaplikasikan ilmu yang kita dapat dengan dunia nyata kita. Percuma saja di bangku perkuliahan kita selalu mendapatkan IPK kumload akan tetapi di dunia nyata saat kita lulus kita tidak mampu berbuat apa saja yang di lakukan seorang engineer, bahkan sadisnya kita nganggur. Sepintar apapun jika seseorang tidak mempunyai skill tidak akan berguna IPK yang mereka dapatkan. Bukan teman kalian di dunia perkuliahan saat ini yang menjadi lawan, akan tetapi lawan sebenarnya adalah saat di dunia kerja yang sangat kejam dan bengis saling menjatuhkan lawan satu sama lain.
Jangan berkecil hati jika kalian tidak mendapatkan nilai yang kalian inginkan , di sini tujuan kalian kuliah tidak lain dan tidak bukan hanyalah mendapatkan ilmu untuk bekal kalian ke depan , IP hanyalah sebagian kecil dari suatu wujud penghargaan bergengsi di bangku kuliah.
Yang sangat di butuhkan dan menjadi utama dan pertama di perhatikan di dunia kita (civil engineering) adalah skill dan kerjas , bergantung kepada kita mengasah sedemikian rupa skill kita sendiri, ada yang mempunyai skill akan tetapi tidak bisa mengasah sama saja tidak tau konsep yang berjalan. Bermacam warna dan rupa di antara kita akan tetapi kita hanya satu tujuan kita hanyalah engineering. Berpintar-pintarlah mengasah skill kalian untuk masa depan civil engineering kalian.
Di dalam dunia kerja seorang engineer bukan nilai atau IP yang menentukan bangunan runtuh atau kokoh, akan tetapi skill kalian sebagai seorang engineer yang dapat membangun suatu bangunan itu dengan perhitungan yang tepat dan benar.
Suatu gedung yang berdiri kokoh tidak membutuhkan IP sebagai data berdirinya gedung itu sendiri,kokohnya bangunan itulah nilai kita yang sebenarnya, begitu pula dengan bangunan-bangunan lain.
 Jangan terlalu memburu IPmu saat ini ,akan tetapi berburulah ilmu sebanyak-banyaknya untuk konsep hidup kita yang akan datang di keesokan harinya yang lebih sulit dan membutuhkan kerja keras dan perasan tenaga serta otak kita. Banyak sekali seorang engineer sukse di luar sana yang tidak pernah mendapatkan IPK kumload akan tetapi mereka paham ilmu yang mereka dapatkan dan mereka tau konsep-konsep yang di terapkan di dunia engineering, sehingga mereka selalu sukses mendirikan gedung-gedung pencakar langit serta memegang mega proyek dunia.
Nilai kita yang sebenarnya ada pada bangunan yang kita dirikan nantinya di hadapan dunia, nilai yang kita dapatkan sekarang hanyalah bentuk kecil dari suatu pengahargaan di kelas dan teman-teman kalian saja.

Don’t you forget, the civilian world is our challenge.

Senin, 24 Juni 2013

konsisten pada konservasimu

Sejak 2010 UNNES di resmikan sebagai kampus konseravasi. Akan tetapi awal januari 2013 baru di tetapkan kebijakan konservasi yang dimana didalamnya menyebutkan salah satunya adalah dilarang membawa atau mengendarai sepeda motor di Area Kampus unnes, telah di sediakan juga GSG (Gedung Serba Guna) sebagai tempat parkir pusat untuk menitipkan sepeda motor atau mobil dan kendaraan yang lainnya untuk menghindari asap polusi dan sebagainya yang bersifat “negatif”.  Karena KONSERVASI adalah kebijakan yang sudah di tetapkan dan diresmikan UNNES seharusnya kebijakan tersebut tetap di pertahankan sampai kapanpun.
 Pada selasa minggu lalu telah di adakan SBMPTN di kampus unnes,Dengan adanya SBMPTN ,seharusnya kita kenalkan pada para calon mahasiswa baru kita tentang adanya kebijakan konservasi yang ada di UNNES bukan malah mencabut sementara kebijakan itu. Mungkin bisa di maklumkan karena alasan menghindari keterlambatan waktu test para calon mahasiswa, sebetulnya itu semua bukan masalah dan di jadikan penghalang untuk masalah konservasi kita, seharusnya UNNES lebih menggalakkan konservasinya dengan mengatur bus-busnya dengan ketepatan waktu dan ketepatan kecepatan, dengan begitu mungkin akan lebih memaknai arti konservasi kita daripada harus mencabut sementara kebijakan yang sudah di tetapkan sendiri.
Selama empat hari konservasi bagaikan permainan ketoprak yang dapat berganti tema dan topiknya, tidak harus di matikan sementara konservasi ini , malah justru seharusnya kita menggalakkan konservasi seperti yang di gembar-gemborkan selama ini dengan menunjukkan kepada calon mahasiswa baru aturan-aturan konservasi yang ada di unnes, dan harusnya kita pamerkan dan kenalkan kepada mereka bahwa kita punya konservasi yang unik dan mungkin tidak dapat di temui di universitas-universitas lain di jawa tengah, sehingga mereka dapat beradaptasi dan tidak kaget nantinya
 jika sudah jadi mahasiswa unnes. 
Dengan cara mematikan sementara aktivitas konservasi ini sama saja dengan menunjukkan kepada mereka bawasanya konservasi kita hanyalah konservasi coba-coba, dengan kata lain yang seharusnya konservasi ini harus di jalankan sesuai ketentuan yang sudah di tetapkan malah dengan mudah di lunturkan dengan sendirinya. Kita dapat mengemas konservasi dengan seapik mungkin tanpa harus mematikannya , dengan cara yang sudah di jelaskan di atas tadi dengan jadwal dan awak bus yang lebih efektif dan tepat waktu mungkin bisa lebih membantu tanpa merusak konservasi kita.


Harapan ke depannya agar tetap di jalankan konservasi meskipun di adakannya SBMPTN tidak jadi penghalang dan harusnya menjadi terpacu untuk mengenalkan kepada masyarakat baru tentang konservasi yang ada di unnes.

Jumat, 31 Mei 2013

CSC di Teknik Sipil

 Jurusan Teknik sipil sebagai lembaga pendidikan penghasil lulusan yang berkualitas dengan pengetahuan, kompetensi dan keterampilan profesional dan dapat berperan serta dalam lingkungan global baik di tingkat lokal, regional maupun internasional. Teknik sipil unnes sendiri telah mempunyai CSC (Civil Study Comunity) yaitu salah satu program kerja dari divisi RPP ( riset penalaran dan pendidikan), himpunan mahasiswa teknik sipil, unnes sebagai wadah untuk bertukar pikiran, menambah wawasan, dan mendukung satu sama lain dalam lingkup akademis, khususnya  jurusan teknik sipil itu sendiri. Tak hanya lingkup akademis yang ada di program perkuliahan saja, CSC juga mengadakan suatu kelompok belajar yang berorientasi ke bidang keahlian desain grafis atau software-software aplikatif dari bidang keilmuan teknik sipil.
Tujuan di bentuknya CSC sendiri yaitu untuk membantu mahasiswa yang membutuhkan bantuan dalam penyelesaian tugas – tugas kuliah serta menambah pengetahuan khususnya pada bidang ketekniksipilan, khususnya bagi mahasisiwa baru yang masih sangat membutuhkan orientasi pada bidang tersebut.
CSC ini dibentuk pada kepengurusan tahun 2011 dan diresmikan oleh ketua jurusan teknik sipil universitas negeri semarang pada raker himpunan mahasiswa teknik sipil, dan baru berjalan selama 1 periode kepengurusan.

sitem kerja dari CSC sendiri yaitu dengan menyediakan tentor tentor yang ahli pada bidangnya pada waktu tertentu diluar jam kuliah mahasiswa,selain itu juga beberapa minggu sekali di datangkan langsung dosen pendamping dalam kegiatan tersebut.

Dengan adanyaa CSC ini diharap tidak ada lagi kesulitan - kesulitan yang tidak mampu dihadapi oleh mahasiswa teknik sipil.

Jumat, 24 Mei 2013

SURFING TRANGKIL


Kerusakan jalan dari Sampangan menuju Sekaran memang bukan masalah baru. Jalan menanjak yang menjadi satusatunya jalur penghubung Sekaran dengan daerah Semarang bawah ini memang sering rusak. Kondisi tanah yang labil menjadi alasan sering rusaknya aspal jalan. Padahal, jalur ini sangat padat. Lebih dari 20.000 mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang berkampus di Sekaran menggantungkan aksesnya ke 'dunia bawah' pada jalur ini. Belum lagi penduduk asli Sekaran dan sekitarnya yang berprofesi sebagai pedagang, setiap hari harus lewat jalan ini. Memang, ada jalur selatan melewati Ungaran, tapi harus memutar ke Banyumanik untuk menuju Semarang bawah.
Jalan bergelombang, retak, menanjak, membuat pengguna jalan serasa berselancar di ombak yang bergulung-gulung di laut. Namun, saya sama sekali tak dapat merasakan sensasi menyenangkan 'selancar' jalur Unnes Sekaran ini. Yang saya rasakan justru kekhawatiran yang amat sangat. Karena di kanan kiri jalan adalah jurang yang cukup curam. Sejauh ini, banyak kecelakaan terjadi, terutama di sekitar Perumahan Trangkil Sejahtera. Jalan di kawasan ini menikung tajam dan menurun. Harus ekstra hati-hati melewatinya.
Tak mudah memang, membangun jalan di tanah labil dan menanjak. Tambal sulam aspal yang selama ini dilakukan tak banyak membantu. Karena tambalan itu tak bertahan lama. Tanah yang terus bergeser akan turut menggeser lapisan aspal di atasnya, akibatnya, jalan kembali bergelombang.
Upaya penanggulangan gerak tanah adalah merupakan tindakan korektif baik penanggulangan  darurat (bersifat sementara dan sederhana) maupun permanen.
-          Penanggulangan darurat
Suatu tindakan penanggulangan yang bersifat sementara. Umumnya sebelum penanggulangan permanen dilakukan.
Beberapa tindakan penanggulangan yang dapat di lakukan dengan cara sederhana adalah :
a.       Mencegah masuknya air permukaan ke dalam tanah yang labil,dengan menutup rekahan-rekahan tanah dengan menggunakan tanah liat ataupun terpal
b.      Mengeringkan/mengalirkan genanangan air yang ada di atas lokasi yang mengalami gerak tanah
c.       Membuat bronjong pada bagian kaki lereng lokasi yang mengalami gerak tanah.
-          Penanggulangan Permanen
Penanggulangan ini membutuhkan waktu untuk penyelidikan,analisis, dan penyelidikan yang matang.
Salah satu solusi untuk menanggulangi permasalahan tanah seperti gerak tanah yaitu dengan metode grouting. yang dimaksud dengan grouting disini merupakan pekerjaan memasukan bahan yang masih dalam keadaan cair untuk perbaikan tanah, dengan cara tekanan, sehingga bahan tersebut akan mengisi semua retak-retak dan lubang-lubang, kemudian setelah beberapa saat bahan tersebut akan mengeras, dan menjadi satu kesatuan dengan tanah yang ada.
Tujuan dilakukan grouting
Untuk memperkuat formasi dari lapisan tanah dan sekaligus menjadikan lapisan tanah tersebut menjadi padat, sehingga mampu untuk mendukung beban bangunan yang direncanakan. Selain itu metode grouting juga bertujuan untuk menahan aliran air, dalam kasus ini tanah dalam kondisi miring sehingga air yang mengalir di dalam tanah akan mudah membawa partikel tanah, yang akan mengakibatkan terjadinya rongga-rongga di dalam tanah.


Selasa, 30 April 2013

jangan lupakan konservasi budaya


Universitas Negeri Semarang (Unnes) merupakan perguruan tinggi yang mengemban misi untuk menghasilkan lulusan yang cendekia, intelek dan berkarakter. Tuntutan tersebut adalah dengan melakukan pembelajaran dalam iklim akademik melalui budaya konservasi. Hal ini dilakukan agar mahasiswa memperoleh wawasan dan mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan. Sebagai wujud kontribusi untuk dunia pendidikan tanpa memisahkan diri dengan budaya konservasi yang diusung Unnes.
Bersamaan dengan upaya konservasi secara ekologis, penguatan pada aspek sikap dan perilaku segenap warga universitas serta lingkungan disekitarnya yang mencerminkan nilai konservasi menjadi program konservasi di bidang budaya.
Implementasinya lewat sosialisasi dan pembudayaan sikap hidup ramah lingkungan, semangat menanam sekaligus merawatnya, mengutamakan nir kertas, efisien energi sekaligus pengembangan energi ramah lingkungan yang semua bermuara pada perlindungan dan penguatan
Sejalan dengan itu, kegiatan yang telah berlangsung, difasilitasi, dan dioptimalkan. Antara lain sarasehan 'selasa legen (rebo legen)', sanggar tari, sanggar pedalangan, sanggar panatacara, dan pembangunan kampung budaya
Kampung budaya, secara fisik, merupakan sebuah perkampungan yang mencerminkan prinsip multikultural. Diperkampungan inilah berbagai aspek dan wujud kebudayaan dieksplorasi, diapresiasi dan dikembangkan.
    Budaya nasional adalah kumpulan dari berbagai nilai-nilai budaya daerah yang mencerminkan Indonesia        seutuhnya. Budaya yang membentuk sebuah adat istiadat yang mengakar sehingga tak mudah hilang dalam pergaulan masyarakat.
Saat ini, budaya Indonesia mulai kehilangan warnanya. Banyak peristiwa dan keadaan yang mencerminkan seperti generasi muda unnes yang mulai melupakan budaya daerahnya, menghilangnya kesenian tradisional dan mahasiswa unnes yang melakukan tindakan demo.
Tujuan dari konservasi budaya sendiri yaitu untuk melestarikan, menjaga, dan mengembangkan budaya tanah air dan agar tidak melupakan budaya kita.
Namun bagaimana kenyataannya jika di kaitkan dengan mahasiswa unnes yang melakukan tindakan demonstrasi. Padahal budaya yang kita lestarikan adalah budaya yang baik dan bermanfaat tidak seperti demo. Apakah demo adalah suatu wujud konkret dari konservasi budaya atau hanya niat dari oknum tertentu untuk mendapatkan sesuatu yang menguntungkan bagi mereka sendiri dan merusak konservasi budaya di unnes. Sampai saat ini tidak ada reaksi dari petinggi-petinggi unnes yang menjunjung tinggi konservasi, khususnya konservasi budaya sebagai tameng perlindungan budaya bangsa. Para petinggi hanya sibuk memikirkan bagaimana budaya dan kesenian tradisional menghasilkan profit yang menjanjikan tetapi tidak disertai pengembangan dan pemugaran budaya daerah. Kebijakan pemerintah terhadap masalah kebudayaan sangat kurang. Pejabat unnes hanya memusatkan diri pada masalah ekonomi dan politik. Mereka mungkin lupa bahwa budaya nasional adalah identitas bagngsa Indonesia. Bila menyangkut sebuah bangsa yang besar, yang dengan mudah membiarkan identitasnya dipermainkan oleh bangsa lain, hal ini menjadi lebih berbahaya.
Indonesia memang negara demokrasi tapi tidak harus selalu mendemonstrasi hal-hal yang seharusnya bisa di bicarakan atau dengan cara musyawarah mufakat.
Selain itu kita harus melakukan sesuatu untuk melindungi budaya bangsa terutama generasi muda. Generasi muda terlalu terbuai oleh budaya luar tanpa melihat indahnya budaya negeri sendiri yang maha kaya. Memasuki era globalisasi bukan berarti kita meng-internasional-kan diri hingga melupakan nasionalitas kita.

http://youtu.be/jotcxp4vtSI

Jumat, 19 April 2013

KONSERVASI KUPU-KUPU







Universitas Negeri Semarang (UNNES), sebagai universitas konservasi bertaraf internasional yang sehat, unggul, dan sejahtera. Sekarang Universitas Negeri Semarang telah menjelma menjadi salah satu Perguruan Tinggi Negeri Unggulan dan terpandang di Jawa Tengah
               
Salah satu wujud dari jargon konservasi, saat ini unnes mempunyai rumah untuk penangkaran jenis kupu-kupu yang di beri nama “butterfly sanctuary” yang berada dibawah naungan badan konservasi unnes dan di kelola oleh green community dari FMIPA biology unnes.
Saat di wawancarai pada sabtu (13/4) direktur butterfly sanctuary (Adam) mengatakan Memang penangkaran ini sudah ada sejak tahun 2009 bertempat di laboratorium biology, kemudian pada tahun 2011 badan ini mengajukan proposal ke badan konservasi unnes dan mendapat tanggapan baik dari pihak unnes, dan akhirnya butterfly sanctuary ini di biayai dan di beri lahan oleh badan konservasi sekitar 100 m2, dan dengan naiknya kedudukan butterfly sanctuary di bawah naungan langsung dari unnes ini juga mempermudah adanya dukungan dari luar seperti saat ini yang sudah bekerja sama, diantaranya : penangkaran kupu-kupu cilember bandung dan penangkaran kupu-kupu cihanjuang bogor.
Didirikannya butterfly sanctuary ini adalah suatu bentuk perwujudan dari salah satu pelaksanaan konservasi di unnes yaitu konservasi keanekaragaman hayati yang khusus untuk memberdayakan kupu-kupu khususnya di lingkungan sekitar unnes.
Di rumah penangkaran ini sendiri sudah ada 10 jenis kupu-kupu dan salah satu di antaranya sudah di lindungi yaitu jenis triodes Helena. Fungsi didirikannya butterfly sanctuary ini selain untuk konservasi lingkungan juga sebagai edu wisata dan penelitian baik dari mahasiswa unnes sendiri maupun sekolah-sekolah luar.
Tujuannya adalah untuk melestarikan jenis-jenis kupu-kupu khususnya yang ada di unnes dan mengawetkan jenis-jenis kupu-kupu yang sudah mati agar masih ada sampai kapanpun.






METAMORFOSA KUPU-KUPU


Kamis, 21 Maret 2013

APIKNYA KEMASAN KONSERVASI


      Planet hunian manusia yang dikenal dengan sebutan bumi ini memang sudah tak seasri dahulu kala sebelum banyak campurtangan manusia dengan teknologi semaju saat ini.
    Unnes yang gencar-gencarnya diteriakan sebagai unniversitas yang mengusung slogan universitas konservasi, ini memang sudah menyebar dan mencoba membuktikan slogannya dengan mengadakan kegiatan – kegiatan yang mengarah pada nilai-nilai konservasi, seperti :
  • Satu mahasiswa satu pohon
  • Adanya rumah kompos
  •  Paper less
  •  Embung sebagai pengendali banjir
  • Sumur-sumur bio pori
  • Kampus bebas kendaraan, dll.
Tapi apakah semua itu sudah mencerminkan perilaku yang positif terhadap alam kita, coba kita kaji lebih dalam lagi mengenai sejarah keberadaan Universitas Negeri Semarang (UNNES),
Lihat saja, di sepanjang jalan Taman Siswa (dulu Cuma jalan Sekaran-Banaran) sudah banyak berdiri tempat-tempat usaha yang begitu menggiurkan bagi para pemilik modal. Mereka berlomba-lomba menarik keuntungan dengan berdagang dengan kelebihan masing-masing. Dimulai dari usaha warung-warung makan yang menyediakan sarana konsumsi mahasiswa, toko kelontong, toko elektronik, Toko Pulsa, Toko  Komputer, salon, Warnet, Arena Playstation, Fotocopy, dan lain sebagainya semuanya ada di sini. Sehingga, mahasiswa ataupun warga masyarakat Sekaran tidak perlu lagi berbelanja jauh-jauh.
Namun, pantas disayangkan sebab lingkungan di dalam kampus begitu rindang dan tertata rapi berlawanan keadaanya dengan keadaan lingkungan sekitarnya, khususnya di daerah Sekaran atau Banaran yang banyak dijadikan tempat kos mahasiswa maupun sebagai tempat usaha warga masyarakat setempat.

Masyarakat sekitar sepertinya tidak mau direpotkan dan mereka sepertinya acuh dengan keadaan yang ada saat ini. Berjubelnya kos-kosan yang ada dan usaha-usaha masyarakat yang dibangun benar-benar jauh dari nilai-nilai konservasi yang dilakukan oleh pihak Unnes. Sebagai contoh dari kondisi ini adalah minimnya kesadaran konservasi masyarakat baik mahasiswa, pedagang, maupun masyarakat setempat dalam mengatur dan menata lingkungan mereka. Sampah, adalah salah satunya.

Tidak banyak yang peduli dengan keberadaan masalah yang satu ini. Sehingga tidak jarang, jalan yang tadinya bersih enak untuk dilalui menjadi luapan sampah yang muncul dari gorong-gorong yang tidak diatur dengan baik oleh masyarakat.

Memang permasalahan ini bukan sepenuhnya menjadi tugas Unnes sebagai Universitas yang berdiri ditengah-tengahnya namun yang memiliki dari program dan jargon Universitas Konservasi yang dimiliki Unnes sudah selayaknya masalah ini menjadi salah satu program utama disamping program-program konservasi yang dilakukan di dalam kampus. Unnes juga harus bisa melakukan konservasi terhadap lingkungan sekitarnya.Akan lebih indah dan akan lebih mengena jargon yang dimiliki oleh Unnes, tidak hanya dimiliki oleh pihak Unnes saja akan tetapi juga dimiliki oleh masyarakat sekitarnya.

Sebab, keberhasilan dari program Unnes Konservasi juga akan berdampak pada lingkungan masyarakatnya. Pihak Unnes harus mampu merangkul masyarakat (baik penduduk lokal, pendatang atau lain sebagainya) untuk mensukseskan program besar ini sehingga nanti benar-benar dapat dicontoh oleh Universitas-universitas lain di Indonesia dan masyarakat luas pada umumnya. Bisa menjadikan wilayah Sekaran dan sekitarnya sebagai model Konservasi yang benar-benar mengena bagi semua lapisan khususnya alam itu sendiri.