Selasa, 30 April 2013

jangan lupakan konservasi budaya


Universitas Negeri Semarang (Unnes) merupakan perguruan tinggi yang mengemban misi untuk menghasilkan lulusan yang cendekia, intelek dan berkarakter. Tuntutan tersebut adalah dengan melakukan pembelajaran dalam iklim akademik melalui budaya konservasi. Hal ini dilakukan agar mahasiswa memperoleh wawasan dan mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan. Sebagai wujud kontribusi untuk dunia pendidikan tanpa memisahkan diri dengan budaya konservasi yang diusung Unnes.
Bersamaan dengan upaya konservasi secara ekologis, penguatan pada aspek sikap dan perilaku segenap warga universitas serta lingkungan disekitarnya yang mencerminkan nilai konservasi menjadi program konservasi di bidang budaya.
Implementasinya lewat sosialisasi dan pembudayaan sikap hidup ramah lingkungan, semangat menanam sekaligus merawatnya, mengutamakan nir kertas, efisien energi sekaligus pengembangan energi ramah lingkungan yang semua bermuara pada perlindungan dan penguatan
Sejalan dengan itu, kegiatan yang telah berlangsung, difasilitasi, dan dioptimalkan. Antara lain sarasehan 'selasa legen (rebo legen)', sanggar tari, sanggar pedalangan, sanggar panatacara, dan pembangunan kampung budaya
Kampung budaya, secara fisik, merupakan sebuah perkampungan yang mencerminkan prinsip multikultural. Diperkampungan inilah berbagai aspek dan wujud kebudayaan dieksplorasi, diapresiasi dan dikembangkan.
    Budaya nasional adalah kumpulan dari berbagai nilai-nilai budaya daerah yang mencerminkan Indonesia        seutuhnya. Budaya yang membentuk sebuah adat istiadat yang mengakar sehingga tak mudah hilang dalam pergaulan masyarakat.
Saat ini, budaya Indonesia mulai kehilangan warnanya. Banyak peristiwa dan keadaan yang mencerminkan seperti generasi muda unnes yang mulai melupakan budaya daerahnya, menghilangnya kesenian tradisional dan mahasiswa unnes yang melakukan tindakan demo.
Tujuan dari konservasi budaya sendiri yaitu untuk melestarikan, menjaga, dan mengembangkan budaya tanah air dan agar tidak melupakan budaya kita.
Namun bagaimana kenyataannya jika di kaitkan dengan mahasiswa unnes yang melakukan tindakan demonstrasi. Padahal budaya yang kita lestarikan adalah budaya yang baik dan bermanfaat tidak seperti demo. Apakah demo adalah suatu wujud konkret dari konservasi budaya atau hanya niat dari oknum tertentu untuk mendapatkan sesuatu yang menguntungkan bagi mereka sendiri dan merusak konservasi budaya di unnes. Sampai saat ini tidak ada reaksi dari petinggi-petinggi unnes yang menjunjung tinggi konservasi, khususnya konservasi budaya sebagai tameng perlindungan budaya bangsa. Para petinggi hanya sibuk memikirkan bagaimana budaya dan kesenian tradisional menghasilkan profit yang menjanjikan tetapi tidak disertai pengembangan dan pemugaran budaya daerah. Kebijakan pemerintah terhadap masalah kebudayaan sangat kurang. Pejabat unnes hanya memusatkan diri pada masalah ekonomi dan politik. Mereka mungkin lupa bahwa budaya nasional adalah identitas bagngsa Indonesia. Bila menyangkut sebuah bangsa yang besar, yang dengan mudah membiarkan identitasnya dipermainkan oleh bangsa lain, hal ini menjadi lebih berbahaya.
Indonesia memang negara demokrasi tapi tidak harus selalu mendemonstrasi hal-hal yang seharusnya bisa di bicarakan atau dengan cara musyawarah mufakat.
Selain itu kita harus melakukan sesuatu untuk melindungi budaya bangsa terutama generasi muda. Generasi muda terlalu terbuai oleh budaya luar tanpa melihat indahnya budaya negeri sendiri yang maha kaya. Memasuki era globalisasi bukan berarti kita meng-internasional-kan diri hingga melupakan nasionalitas kita.

http://youtu.be/jotcxp4vtSI

Jumat, 19 April 2013

KONSERVASI KUPU-KUPU







Universitas Negeri Semarang (UNNES), sebagai universitas konservasi bertaraf internasional yang sehat, unggul, dan sejahtera. Sekarang Universitas Negeri Semarang telah menjelma menjadi salah satu Perguruan Tinggi Negeri Unggulan dan terpandang di Jawa Tengah
               
Salah satu wujud dari jargon konservasi, saat ini unnes mempunyai rumah untuk penangkaran jenis kupu-kupu yang di beri nama “butterfly sanctuary” yang berada dibawah naungan badan konservasi unnes dan di kelola oleh green community dari FMIPA biology unnes.
Saat di wawancarai pada sabtu (13/4) direktur butterfly sanctuary (Adam) mengatakan Memang penangkaran ini sudah ada sejak tahun 2009 bertempat di laboratorium biology, kemudian pada tahun 2011 badan ini mengajukan proposal ke badan konservasi unnes dan mendapat tanggapan baik dari pihak unnes, dan akhirnya butterfly sanctuary ini di biayai dan di beri lahan oleh badan konservasi sekitar 100 m2, dan dengan naiknya kedudukan butterfly sanctuary di bawah naungan langsung dari unnes ini juga mempermudah adanya dukungan dari luar seperti saat ini yang sudah bekerja sama, diantaranya : penangkaran kupu-kupu cilember bandung dan penangkaran kupu-kupu cihanjuang bogor.
Didirikannya butterfly sanctuary ini adalah suatu bentuk perwujudan dari salah satu pelaksanaan konservasi di unnes yaitu konservasi keanekaragaman hayati yang khusus untuk memberdayakan kupu-kupu khususnya di lingkungan sekitar unnes.
Di rumah penangkaran ini sendiri sudah ada 10 jenis kupu-kupu dan salah satu di antaranya sudah di lindungi yaitu jenis triodes Helena. Fungsi didirikannya butterfly sanctuary ini selain untuk konservasi lingkungan juga sebagai edu wisata dan penelitian baik dari mahasiswa unnes sendiri maupun sekolah-sekolah luar.
Tujuannya adalah untuk melestarikan jenis-jenis kupu-kupu khususnya yang ada di unnes dan mengawetkan jenis-jenis kupu-kupu yang sudah mati agar masih ada sampai kapanpun.






METAMORFOSA KUPU-KUPU