Kamis, 21 Maret 2013

APIKNYA KEMASAN KONSERVASI


      Planet hunian manusia yang dikenal dengan sebutan bumi ini memang sudah tak seasri dahulu kala sebelum banyak campurtangan manusia dengan teknologi semaju saat ini.
    Unnes yang gencar-gencarnya diteriakan sebagai unniversitas yang mengusung slogan universitas konservasi, ini memang sudah menyebar dan mencoba membuktikan slogannya dengan mengadakan kegiatan – kegiatan yang mengarah pada nilai-nilai konservasi, seperti :
  • Satu mahasiswa satu pohon
  • Adanya rumah kompos
  •  Paper less
  •  Embung sebagai pengendali banjir
  • Sumur-sumur bio pori
  • Kampus bebas kendaraan, dll.
Tapi apakah semua itu sudah mencerminkan perilaku yang positif terhadap alam kita, coba kita kaji lebih dalam lagi mengenai sejarah keberadaan Universitas Negeri Semarang (UNNES),
Lihat saja, di sepanjang jalan Taman Siswa (dulu Cuma jalan Sekaran-Banaran) sudah banyak berdiri tempat-tempat usaha yang begitu menggiurkan bagi para pemilik modal. Mereka berlomba-lomba menarik keuntungan dengan berdagang dengan kelebihan masing-masing. Dimulai dari usaha warung-warung makan yang menyediakan sarana konsumsi mahasiswa, toko kelontong, toko elektronik, Toko Pulsa, Toko  Komputer, salon, Warnet, Arena Playstation, Fotocopy, dan lain sebagainya semuanya ada di sini. Sehingga, mahasiswa ataupun warga masyarakat Sekaran tidak perlu lagi berbelanja jauh-jauh.
Namun, pantas disayangkan sebab lingkungan di dalam kampus begitu rindang dan tertata rapi berlawanan keadaanya dengan keadaan lingkungan sekitarnya, khususnya di daerah Sekaran atau Banaran yang banyak dijadikan tempat kos mahasiswa maupun sebagai tempat usaha warga masyarakat setempat.

Masyarakat sekitar sepertinya tidak mau direpotkan dan mereka sepertinya acuh dengan keadaan yang ada saat ini. Berjubelnya kos-kosan yang ada dan usaha-usaha masyarakat yang dibangun benar-benar jauh dari nilai-nilai konservasi yang dilakukan oleh pihak Unnes. Sebagai contoh dari kondisi ini adalah minimnya kesadaran konservasi masyarakat baik mahasiswa, pedagang, maupun masyarakat setempat dalam mengatur dan menata lingkungan mereka. Sampah, adalah salah satunya.

Tidak banyak yang peduli dengan keberadaan masalah yang satu ini. Sehingga tidak jarang, jalan yang tadinya bersih enak untuk dilalui menjadi luapan sampah yang muncul dari gorong-gorong yang tidak diatur dengan baik oleh masyarakat.

Memang permasalahan ini bukan sepenuhnya menjadi tugas Unnes sebagai Universitas yang berdiri ditengah-tengahnya namun yang memiliki dari program dan jargon Universitas Konservasi yang dimiliki Unnes sudah selayaknya masalah ini menjadi salah satu program utama disamping program-program konservasi yang dilakukan di dalam kampus. Unnes juga harus bisa melakukan konservasi terhadap lingkungan sekitarnya.Akan lebih indah dan akan lebih mengena jargon yang dimiliki oleh Unnes, tidak hanya dimiliki oleh pihak Unnes saja akan tetapi juga dimiliki oleh masyarakat sekitarnya.

Sebab, keberhasilan dari program Unnes Konservasi juga akan berdampak pada lingkungan masyarakatnya. Pihak Unnes harus mampu merangkul masyarakat (baik penduduk lokal, pendatang atau lain sebagainya) untuk mensukseskan program besar ini sehingga nanti benar-benar dapat dicontoh oleh Universitas-universitas lain di Indonesia dan masyarakat luas pada umumnya. Bisa menjadikan wilayah Sekaran dan sekitarnya sebagai model Konservasi yang benar-benar mengena bagi semua lapisan khususnya alam itu sendiri.

Selasa, 12 Maret 2013

Selamatkan Bumi

Keadaan tentang lingkungan hidup akan kondisi bunmi kita akhir-akhir ini yidak perah membangkitkan semangat.
pemanasan global ,perusakan lingkungan, dan cuaca ekstrim adalah masalah-masalah yang menghiasi halaman depan media dan berita yang tadinya kita pantau sepintas kini semakin nyata di depan mata.

slogan konservasi yang di kampanyekan oleh para penguasa terkesan hanyalah seremonial belaka untuk mengikuti tren yang sedang populer saat ini. sedagkan di sisi lain pemerintah melegalkan berbagai pertambangan dan industri yang notabene menghasilkan limbah. serta peran masyarakat juga di perlukan sebagai kontrol agar kerusakan lingkungan dapat di minimalisir, sehingga alam yang indah ini tidak rusak akibat ulah orang-orang yang hanya mengambil keuntungan pribadi saja.

masyarakat jangan pernah takut maupun gentar untuk melakukan pemboikotan pada setiap pertambangan atau industri yang berpotensi merusak alam ini.

coba di renungkan , jika alam tempat kita tinggal ini rusak maka yang paling berisiko terkena dampak dari kerusakan itu adalah kita sendiri, sedangkan para pelaku hanya mengambil keuntungan dan menikmatinya jauh dari tempat terjadinya kerusakan itu.

jika pemerintah selama ini "mandul" untuk menjaga kelestarian alam ini, giliran kita tang harus dan sepantasnya kita yang menjaga dan melestarikan alam tempat kita tinggal. oleh sebab itu mulailah untuk mencintai lingkungan sekitar dan memprogram mulai dari diri kita sendiri agar melakukan penghijauan, agar dampak dari kerusakan lingkungan dapat di minimalisir.

harapan ke depannya kita bisa memberikan udara yang sehat bagi lingkungan sekitar kita. jangan tunggu saudara-saudara kita menjadi korban selanjutnya karena banjir dan bencana alam lainnya yang notabene penyebabnya adalah manusia sendiri.

RUMAH TIPE 90

Rumah minimalis bertipe 90 ini, memiliki fasilitas ruangan yang cukup besar karena didesain untuk menampung keluarga dengan jumlah yang cukup banyak sehingga tiap ruang berdimensi dengan ukuran yang cukup luas,
fasilitas yang tersedia :
*ruang tamu (luas)
*ruang keluarga (lntai 1 & lantai 2)
*Kamar tidur utama 2bh
*Kamar tidur sedang 1bh
*Kamar mandi 1bh
*Gudang 
*Ruang kerja/Kantor