Planet hunian manusia yang dikenal dengan sebutan bumi
ini memang sudah tak seasri dahulu kala sebelum banyak campurtangan manusia
dengan teknologi semaju saat ini.
Unnes yang
gencar-gencarnya diteriakan sebagai unniversitas yang mengusung slogan
universitas konservasi, ini memang sudah menyebar dan mencoba membuktikan
slogannya dengan mengadakan kegiatan – kegiatan yang mengarah pada nilai-nilai
konservasi, seperti :
- Satu mahasiswa satu pohon
- Adanya rumah kompos
- Paper less
- Embung sebagai pengendali banjir
- Sumur-sumur bio pori
- Kampus bebas kendaraan, dll.
Tapi apakah semua itu sudah
mencerminkan perilaku yang positif terhadap alam kita, coba kita kaji lebih
dalam lagi mengenai sejarah keberadaan Universitas Negeri Semarang (UNNES),
Lihat saja, di sepanjang jalan Taman Siswa (dulu Cuma jalan
Sekaran-Banaran) sudah banyak berdiri tempat-tempat usaha yang begitu
menggiurkan bagi para pemilik modal. Mereka berlomba-lomba menarik keuntungan
dengan berdagang dengan kelebihan masing-masing. Dimulai dari usaha
warung-warung makan yang menyediakan sarana konsumsi mahasiswa, toko kelontong,
toko elektronik, Toko Pulsa, Toko Komputer, salon, Warnet, Arena
Playstation, Fotocopy, dan lain sebagainya semuanya ada di sini. Sehingga,
mahasiswa ataupun warga masyarakat Sekaran tidak perlu lagi berbelanja
jauh-jauh.
Namun, pantas disayangkan sebab lingkungan di dalam kampus begitu rindang dan tertata rapi berlawanan keadaanya dengan keadaan lingkungan sekitarnya, khususnya di daerah Sekaran atau Banaran yang banyak dijadikan tempat kos mahasiswa maupun sebagai tempat usaha warga masyarakat setempat.
Masyarakat sekitar sepertinya tidak mau direpotkan dan mereka sepertinya acuh
dengan keadaan yang ada saat ini. Berjubelnya kos-kosan yang ada dan
usaha-usaha masyarakat yang dibangun benar-benar jauh dari nilai-nilai
konservasi yang dilakukan oleh pihak Unnes. Sebagai contoh dari kondisi ini
adalah minimnya kesadaran konservasi masyarakat baik mahasiswa, pedagang, maupun
masyarakat setempat dalam mengatur dan menata lingkungan mereka. Sampah, adalah
salah satunya.
Tidak banyak yang peduli dengan keberadaan masalah yang satu ini. Sehingga tidak jarang, jalan yang tadinya bersih enak untuk dilalui menjadi luapan sampah yang muncul dari gorong-gorong yang tidak diatur dengan baik oleh masyarakat.
Memang permasalahan ini bukan sepenuhnya menjadi tugas Unnes sebagai Universitas yang berdiri ditengah-tengahnya namun yang memiliki dari program dan jargon Universitas Konservasi yang dimiliki Unnes sudah selayaknya masalah ini menjadi salah satu program utama disamping program-program konservasi yang dilakukan di dalam kampus. Unnes juga harus bisa melakukan konservasi terhadap lingkungan sekitarnya.Akan lebih indah dan akan lebih mengena jargon yang dimiliki oleh Unnes, tidak hanya dimiliki oleh pihak Unnes saja akan tetapi juga dimiliki oleh masyarakat sekitarnya.
Sebab, keberhasilan dari program Unnes Konservasi juga akan berdampak pada lingkungan masyarakatnya. Pihak Unnes harus mampu merangkul masyarakat (baik penduduk lokal, pendatang atau lain sebagainya) untuk mensukseskan program besar ini sehingga nanti benar-benar dapat dicontoh oleh Universitas-universitas lain di Indonesia dan masyarakat luas pada umumnya. Bisa menjadikan wilayah Sekaran dan sekitarnya sebagai model Konservasi yang benar-benar mengena bagi semua lapisan khususnya alam itu sendiri.
Namun, pantas disayangkan sebab lingkungan di dalam kampus begitu rindang dan tertata rapi berlawanan keadaanya dengan keadaan lingkungan sekitarnya, khususnya di daerah Sekaran atau Banaran yang banyak dijadikan tempat kos mahasiswa maupun sebagai tempat usaha warga masyarakat setempat.
Masyarakat sekitar sepertinya tidak mau direpotkan dan mereka sepertinya acuh
dengan keadaan yang ada saat ini. Berjubelnya kos-kosan yang ada dan
usaha-usaha masyarakat yang dibangun benar-benar jauh dari nilai-nilai
konservasi yang dilakukan oleh pihak Unnes. Sebagai contoh dari kondisi ini
adalah minimnya kesadaran konservasi masyarakat baik mahasiswa, pedagang, maupun
masyarakat setempat dalam mengatur dan menata lingkungan mereka. Sampah, adalah
salah satunya.Tidak banyak yang peduli dengan keberadaan masalah yang satu ini. Sehingga tidak jarang, jalan yang tadinya bersih enak untuk dilalui menjadi luapan sampah yang muncul dari gorong-gorong yang tidak diatur dengan baik oleh masyarakat.
Memang permasalahan ini bukan sepenuhnya menjadi tugas Unnes sebagai Universitas yang berdiri ditengah-tengahnya namun yang memiliki dari program dan jargon Universitas Konservasi yang dimiliki Unnes sudah selayaknya masalah ini menjadi salah satu program utama disamping program-program konservasi yang dilakukan di dalam kampus. Unnes juga harus bisa melakukan konservasi terhadap lingkungan sekitarnya.Akan lebih indah dan akan lebih mengena jargon yang dimiliki oleh Unnes, tidak hanya dimiliki oleh pihak Unnes saja akan tetapi juga dimiliki oleh masyarakat sekitarnya.
Sebab, keberhasilan dari program Unnes Konservasi juga akan berdampak pada lingkungan masyarakatnya. Pihak Unnes harus mampu merangkul masyarakat (baik penduduk lokal, pendatang atau lain sebagainya) untuk mensukseskan program besar ini sehingga nanti benar-benar dapat dicontoh oleh Universitas-universitas lain di Indonesia dan masyarakat luas pada umumnya. Bisa menjadikan wilayah Sekaran dan sekitarnya sebagai model Konservasi yang benar-benar mengena bagi semua lapisan khususnya alam itu sendiri.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar